Sulit sekali memrediksi masa depan, kalau ada yang bisa pasti sudah kaya raya. Karena tidak bisa maka kita hanya bisa membaca gejala-gejalanya. Saat ini gejala yang terjadi adalah perubahan geopolitik dunia, dimana kita tidak merdeka lagi jual beli antar negara. Tarif resiprokal antar negara yang dipelopori oleh USA memaksa kita membeli produk dari negara yang telah ‘berjasa’ membeli barang dari kita. Jika kita misalnya banyak menjual barang ke India, mau tidak mau kita terpaksa membeli barang dari mereka, walaupun berupa mobil ‘made in india’.
Pakar geopolitik Prof Jian mulai menyoroti masalah ini, khususnya posisi negara di masa depan. Perdagangan tidak se global saat awal milenium baru, malah akan berupa pasar-pasar kecil, misalnya Rusia-Jerman, Asean, dan lain-lain yang bisa menjamin kelangsungan hidup suatu negara dalam waktu lama. Pondasi saat ini yang hanya mengandalkan minyak ternyata tidak menjamin sustainability suatu negara, ditambah lagi generasi sekarang, gen-z yang agak sulit menerima estapet. Negara yang gen-z nya siap menerima tongkat estapet dipastikan akan menjadi negara yang kuat, tentu saja kalau ada generasinya, repotnya jika jumlahnya menyusut. Lihat saja pimpinan negara-negara yang saat ini berpengaruh, masih dipimpin oleh orang-orang tua, setidaknya mendekati 80an tahun usianya. Tokoh-tokoh politik masih dimiliki oleh orang tua yang itu-itu saja, kalau pun ada yang ‘terlalu muda’ malah banyak yang tidak setuju.
Nah ke depan, anak-anak kita harus dididik siap tanpa AI atau aspek digital yang hanya mengandalkan jaringan internet, yang jika down tidak bisa berbuat apa-apa. Kembali ke aktivitas fisik yang real, misalnya bertani atau lainnya yang tanpa tergantung dengan AI sepertinya harus dibiasakan dari awal. Repot kan kalau mau melakukan sesuatu harus dengan listrik dan internet. Beda dengan jaman kita dulu, hanya dengan petromax atau lampu tempel masih bisa melakukan segala hal. Yuk, gen-z, lakukan hal-hal yang tidak itu-itu saja.
PakarPBN
A Private Blog Network (PBN) is a collection of websites that are controlled by a single individual or organization and used primarily to build backlinks to a “money site” in order to influence its ranking in search engines such as Google. The core idea behind a PBN is based on the importance of backlinks in Google’s ranking algorithm. Since Google views backlinks as signals of authority and trust, some website owners attempt to artificially create these signals through a controlled network of sites.
In a typical PBN setup, the owner acquires expired or aged domains that already have existing authority, backlinks, and history. These domains are rebuilt with new content and hosted separately, often using different IP addresses, hosting providers, themes, and ownership details to make them appear unrelated. Within the content published on these sites, links are strategically placed that point to the main website the owner wants to rank higher. By doing this, the owner attempts to pass link equity (also known as “link juice”) from the PBN sites to the target website.
The purpose of a PBN is to give the impression that the target website is naturally earning links from multiple independent sources. If done effectively, this can temporarily improve keyword rankings, increase organic visibility, and drive more traffic from search results.
